InfoJakartanews - Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta Inggard Joshua menilai penguatan sistem deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya bentrok massa seperti yang terjadi di kawasan Matraman, Jakarta Pusat.
Menurutnya, seluruh unsur kewilayahan harus bekerja sama agar potensi konflik dapat diantisipasi sejak awal.
Ia menegaskan, tanggung jawab menjaga keamanan lingkungan tidak hanya berdada di tangan kepolisian. Pengurus RT/RW, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Bhabinkamtibmas, Babinsa, lurah, hingga camat harus bersinergi dalam memantau situasi serta mendeteksi potensi gangguan keamanan.
"Semua unsur itu harus disinergikan. Jangan sampai kejadian seperti ini kembali kecolongan," kata Inggard saat ditemui di Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Menurut Inggard, setiap gejsla yang berpotensi memicu bentrokan seharusnya dapat dikenali lebih awal oleh perangkat kewilayahan. Dengan koordinasi yang berjalan efektif, konflik dapat dicegah sebelum berkembang menjadi aksi tawuran.
"Jangan sampai ada semacam asap dibiarkan. Harusnya ini sudah terdeteksi," katanya.
Politikus Partai Gerindra tersebut juga menyoroti pola aksi balas dendam yang kerap muncul setelah bentrokan berhasil dibubarkan. Kondisi itu, menurutnya, menunjukkan perlunya pengawasan berkelanjutan dan penindakan tegas terhadap pelaku yang membawa senjata tajam.
"Bahkan sudah dilerai pun masih terjadi pembalasan dendam, bawa pakai alat-alat sajam. Maka perangkat-perangkat hukum harus bertindak tegas terhadap hal-hal tersebut," tandasnya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat dapat terus diperkuat sebagai sistem kewaspadaan dini di tingkat lingkungan. Dengan langkah tersebut, potensi tawuran di Jakarta diharapkan dapat dicegah lebih cepat sehingga keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terpelihara. (Zat)
Komentar0