Gfd9BUzoTpd7TUA8GSC5TUY0BA==

DPR Minta Pencarian Jurnalis Peliput Anak Krakatau Dioptimalkan

INFOJAKARTANEWS - Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin mendorong pengelola Taman Margasatwa Ragunan mengembangkan sumber pendapatan baru tanpa menjadikan kenaikan tarif tiket sebagai satu-satunya pilihan.

Menurut Suhud, kawasan Ragunan memiliki lahan yang luas dan masih menyimpan banyak potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan pemasukan sekaligus memberikan pengalaman baru bagi pengunjung.

Rencana kenaikan tarif masuk hingga Rp10 ribu dinilai perlu dikaji kembali. Suhud menegaskan kenaikan tarif seharusnya diikuti dengan peningkatan kualitas pengelolaan dan layanan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Ya nggak setuju kalau tata kelolanya seperti itu saja. Nggak ada sesuatu yang baru yang dirasakan oleh masyarakat," kata Suhud di DPRD DKI Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Suhud mengatakan kenaikan tarif sebenarnya tidak menjadi persoalan apabila masyarakat memperoleh manfaat atau pengalaman yang berbeda ketika berkunjung. Namun, ia tidak ingin kenaikan harga tiket hanya dilakukan untuk meningkatkan pemasukan pengelola.

"Kalau misalnya ada sesuatu yang membuat orang wah, nah... itu saya kira naik cuma tarif sampai Rp10 ribu sih buat orang kecil," ujarnya.

Ia mempertanyakan manfaat yang akan diterima pengunjung apabila harga tiket naik tetapi kondisi dan pengelolaan Ragunan tidak mengalami perubahan berarti.

"Ini kan persoalannya saya dapat apa ketika saya datang ke Ragunan. Yang beda apa, orang begitu-begitu saja kok," lanjutnya.

Suhud bahkan membandingkan kondisi Ragunan saat ini dengan pengalamannya ketika masih kecil. Menurut dia, kawasan tersebut belum menunjukkan banyak perubahan yang dapat menjadi daya tarik baru bagi masyarakat.

"Saya dari kecil sampai sekarang yang namanya Ragunan behitu-begitu saja. Benar nggak? Dari kecil kan datang Ragunan, sekarang datang lagi ya kayaknya sama saja," tuturnya.

Karena itu, Suhud menilai pengelola perlu mencari model bisnis lain dengan memanfaatkan potensi kawasan Ragunan. Pendapatan dapat dikembangkan melalui merchandise, atraksi, maupun berbagai aktivitas tambahan yang membuat pengunjung tertarik mengeluarkan biaya.

"Memang harus dikasih swasta karena Ragunan itu areanya luas banget. Ratusan hektare kan. Yang dipakai hewan kan cuma sebagian," jelasnya.

Pelinatan pihak swasta, menurut Suhud, dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengoptimalkan area yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Kerja sama tersebut diharapkan dapat menciptakan sumber pendapatan tambahan tanpa langsung membebankan biaya kepada pengunjung melalui kenaikan tiket.

"Perlu diundang swasta, masuk ke situ, kelola. Keren itu. Nah, ini kan persoalan kemampuam mengelola," katanya.

Suhud mencontohkan kawasan wisata lain yang mampu menarik pengunjung dengan menghadirkan beragam aktivitas pendukung, termasuk kuliner dan ruang untuk bersantai. Ia menyebut Blok M sebagai salah satu kawasan yang ramai karena menawarkan berbagai pilihan kegiatan bagi masyarakat.

"Orang datang cuma pengin foto, mau pengin makan. Itu mirip-miriplah," ujarnya.

Menurut Suhud, Ragunan perlu menghadirkan inovasi dan daya tarik baru agar masyarajkat memperoleh pengalaman berbeda setiap kali berkunjung. Dengan pengelolaan yang lebih kreatif, potensi kawasan dapat dimaksimalkan tanpa menjadikan kenaikan tarif tiket sebagai tumpuan utama pendapatan. (Zat)

Komentar0

Type above and press Enter to search.