
Bekasi, infojakartanews.com — Kecelakaan beruntun yang melibatkan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam menewaskan sedikitnya 16 orang.
Peristiwa bermula ketika KRL relasi Bekasi–Cikarang menabrak sebuah taksi yang mogok di perlintasan rel Bulak Kapal, tidak jauh dari stasiun. Insiden tersebut menyebabkan rangkaian KRL harus dievakuasi dan mengganggu operasional jalur.
Dalam situasi tersebut, satu rangkaian KRL lain yang mengarah ke Cikarang diberhentikan di peron Stasiun Bekasi Timur. Namun, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya dan akhirnya menabrak KRL yang sedang berada di stasiun.
Proses Hukum dan Penyelidikan
Kepolisian melalui Polda Metro Jaya mulai melakukan penyelidikan atas insiden tersebut. Sejumlah saksi dijadwalkan menjalani pemeriksaan, termasuk masinis, petugas stasiun, serta polisi khusus kereta api (Polsuska).
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Budi Hermanto, menyatakan bahwa pemeriksaan dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.
“Apakah ini terkait human error atau ada kendala sistem. Semua akan ditelusuri melalui pemeriksaan saksi, barang bukti, dan hasil olah TKP,” ujarnya dalam keterangan tertulis. Kamis (30/04).
Korban Jiwa dan Penanganan
Jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 16 orang. Korban terbaru adalah seorang perempuan berusia 25 tahun yang meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di RSUD dr Chasbullah Abdulmadjid.
Pemerintah melalui PT Jasa Raharja memastikan seluruh korban mendapatkan hak perlindungan. Ahli waris korban meninggal dunia akan menerima santunan sebesar Rp50 juta, ditambah Rp40 juta dari kerja sama dengan PT KAI melalui Jasaraharja Putera.
Sementara itu, korban luka-luka mendapatkan jaminan biaya perawatan hingga Rp20 juta dari Jasa Raharja serta tambahan hingga Rp30 juta dari Jasaraharja Putera.
Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, menegaskan komitmen negara dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat.
Penghormatan dan Pemulihan Layanan
Sebagai bentuk penghormatan, Badan Kepegawaian Negara (Badan Kepegawaian Negara) memberikan kenaikan pangkat anumerta kepada salah satu korban, Nurlaela, yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar.
Di sisi lain, operasional KRL lintas Bekasi–Cikarang telah kembali dibuka secara bertahap sejak Rabu (29/4) setelah mendapatkan persetujuan dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menyatakan bahwa Stasiun Bekasi Timur telah kembali melayani masyarakat, khususnya untuk perjalanan KRL.
Hingga saat ini, proses penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan, sekaligus menjadi dasar evaluasi sistem keselamatan transportasi perkeretaapian di Indonesia. Rill/Red
Komentar0