Gfd9BUzoTpd7TUA8GSC5TUY0BA==

Sampaikan Pidato Penuh Haru Di Wisuda ITB, Gubernur Pramono Anung Tekankan Pentingnya Idealisme dan Kemanusiaan

 


BANDUNG –  Suasana  penuh  keharuan  mewarnai  prosesi wisuda  Institut  Teknologi  Bandung  (ITB)  yang digelar di Kampus ITB Kamis (27/8), saat  tokoh  nasional Pramono  Anung, berdiri  di  mimbar  kehormatan  guna  memberikan  pidato  sambutan. 


Di  hadapan ribuan  wisudawan  yang  memadati  aula,  Pramono  yang  juga  merupakan  alumni Teknik Pertambangan ITB tahun 1988 ini tidak kuasa menyembunyikan emosinya.
Ia secara terbuka mengungkapkan bahwa dirinya harus menahan tangis karena momen tersebut membawanya kembali pada kenangan puluhan tahun silam, saat ia duduk mengenakan toga yang sama seperti para wisudawan di hadapannya.
Momen nostalgia tersebut tidak hanya menjadi kilas balik perjalanan pribadinya, tetapi juga menjadi landasan kuat bagi Pramono untuk membagikan refleksi hidup kepada generasi penerus.
Sebagai bekal untuk memasuki babak baru kehidupan yang penuh  tantangan,  ia  menitipkan  pesan  mendalam  mengenai  prinsip-prinsip  yang harus  dipegang  teguh  oleh  para  lulusan  ITB. 
Pramono  menegaskan  bahwa  hal pertama  dan  paling  utama  yang  harus  dimiliki  oleh  seorang  lulusan  adalah kemampuan untuk beradaptasi, namun dengan catatan kritis bahwa adaptasi tersebut tidak boleh sampai mengorbankan atau menghilangkan idealisme yang telah dipupuk selama masa pendidikan.
Lebih lanjut, ia menyoroti semangat kebaruan yang selalu melekat pada identitas mahasiswa ITB.
Pramono mendorong para wisudawan untuk terus berinovasi dan menciptakan  terobosan  yang  bermanfaat  bagi  masyarakat  luas.
Namun,  ia memberikan peringatan penting bahwa setinggi apa pun inovasi yang diciptakan, para lulusan tidak boleh kehilangan sentuhan kemanusiaan dalam setiap karya mereka.
Menurutnya, inovasi dan kemanusiaan adalah dua sisi mata uang yang harus berjalan beriringan agar ilmu yang didapat benar-benar membawa kemaslahatan.
Sebagai  penutup  wejangannya,  Pramono  mengingatkan  tentang  hakikat  sebuah pencapaian  dan  kesuksesan.  Ia  berpesan  agar  para  wisudawan  terus  mengejar keberhasilan  setinggi  mungkin,  namun  tanpa  pernah  kehilangan  pijakan  atau melupakan  asal-usul  mereka. 
Ia  secara  khusus  menekankan  bahwa  tidak  ada keberhasilan yang utuh tanpa adanya rasa syukur dan doa restu dari kedua orang tua.


Pidato inspiratif yang menggugah sanubari tersebut kemudian ditutup dengan seruan lantang semboyan kebanggaan kampus: In Harmonia Progressio  yang langsung disambut dengan riuh tepuk tangan penghormatan dari seluruh hadirin.

Komentar0

Type above and press Enter to search.